Percetakan Tertua di Indonesia
Percetakan tertua di Indonesia umumnya dikaitkan dengan percetakan yang dibawa oleh VOC dan pemerintah kolonial Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada abad ke-17.
Perkembangan percetakan semakin pesat setelah Batavia menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa itu, berbagai dokumen resmi, surat kabar, dan buku mulai dicetak secara lokal, sehingga tidak lagi harus didatangkan dari Eropa. (ResearchGate)
Jika yang dimaksud adalah percetakan tertua yang masih beroperasi hingga kini, salah satu yang paling terkenal adalah Percetakan Arnoldus di Ende. Percetakan ini didirikan pada tahun 1926 oleh Pater Petrus Noyen SVD dan masih beroperasi hingga sekarang. Percetakan Arnoldus dikenal sebagai salah satu percetakan tertua yang tetap aktif di Indonesia dan pernah menjadi pusat penerbitan buku-buku pendidikan, sastra, dan keagamaan di Indonesia Timur. (Kompas Regional)
Kronologi Singkat Percetakan di Indonesia
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1619 | Batavia menjadi pusat pemerintahan VOC |
| ±1624 | Mesin cetak pertama digunakan di Batavia |
| Abad 17–18 | Percetakan dipakai untuk dokumen pemerintah dan misi keagamaan |
| Abad 19 | Muncul percetakan swasta, surat kabar, dan penerbit lokal |
| 1926 | Percetakan Arnoldus berdiri di Ende |
| Abad 20 | Teknologi offset berkembang pesat di Indonesia |
| Abad 21 | Era percetakan digital dan print-on-demand |
Bagi pelaku usaha percetakan saat ini, sejarah tersebut menunjukkan bahwa industri percetakan Indonesia telah berusia lebih dari 400 tahun dan terus beradaptasi dari mesin cetak manual, letterpress, offset, hingga teknologi digital modern.
Post a Comment