Percetakan Tertua di Indonesia

Percetakan tertua di Indonesia umumnya dikaitkan dengan percetakan yang dibawa oleh VOC dan pemerintah kolonial Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) pada abad ke-17.

Image

Menurut berbagai kajian sejarah, mesin cetak mulai digunakan di Batavia sekitar tahun 1624 untuk mencetak dokumen pemerintahan, pengumuman resmi, buku keagamaan, pamflet, dan kebutuhan administrasi kolonial. Kehadiran mesin cetak ini menjadi tonggak awal perkembangan industri percetakan di Nusantara. 

Perkembangan percetakan semakin pesat setelah Batavia menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa itu, berbagai dokumen resmi, surat kabar, dan buku mulai dicetak secara lokal, sehingga tidak lagi harus didatangkan dari Eropa. (ResearchGate)

Jika yang dimaksud adalah percetakan tertua yang masih beroperasi hingga kini, salah satu yang paling terkenal adalah Percetakan Arnoldus di Ende. Percetakan ini didirikan pada tahun 1926 oleh Pater Petrus Noyen SVD dan masih beroperasi hingga sekarang. Percetakan Arnoldus dikenal sebagai salah satu percetakan tertua yang tetap aktif di Indonesia dan pernah menjadi pusat penerbitan buku-buku pendidikan, sastra, dan keagamaan di Indonesia Timur. (Kompas Regional)

Kronologi Singkat Percetakan di Indonesia

TahunPeristiwa
1619Batavia menjadi pusat pemerintahan VOC
±1624Mesin cetak pertama digunakan di Batavia
Abad 17–18Percetakan dipakai untuk dokumen pemerintah dan misi keagamaan
Abad 19Muncul percetakan swasta, surat kabar, dan penerbit lokal
1926Percetakan Arnoldus berdiri di Ende
Abad 20Teknologi offset berkembang pesat di Indonesia
Abad 21Era percetakan digital dan print-on-demand

Image

Image

Bagi pelaku usaha percetakan saat ini, sejarah tersebut menunjukkan bahwa industri percetakan Indonesia telah berusia lebih dari 400 tahun dan terus beradaptasi dari mesin cetak manual, letterpress, offset, hingga teknologi digital modern.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.