Sejarah Percetakan di Bandung

Bandung memiliki sejarah percetakan yang panjang dan erat kaitannya dengan perkembangan pendidikan, pers, dan penerbitan di Hindia Belanda. Pada akhir abad ke-19, ketika Bandung berkembang menjadi pusat administrasi dan pendidikan di Priangan, kebutuhan akan buku, dokumen, formulir, dan surat kabar turut mendorong lahirnya industri percetakan lokal. (BandungBergerak.id)

Image

Perintis Percetakan di Bandung

Salah satu tokoh yang dianggap sebagai perintis percetakan di Bandung adalah Jacob Roelof de Vries. Pada tahun 1881, ia merintis usaha percetakan dengan sebuah mesin cetak tangan kecil yang awalnya digunakan untuk mencetak iklan toko dan pengumuman lelang. Percetakan miliknya kemudian berkembang menjadi J.R. de Vries & Co. Hingga sekitar tahun 1893, perusahaan ini tercatat sebagai satu-satunya percetakan dan penerbit di Bandung. (BandungBergerak.id)

Munculnya Surat Kabar Bandung

Perkembangan percetakan semakin pesat ketika De Vries mulai menerbitkan surat kabar pertama di Bandung, yaitu De Preanger-Bode, pada tahun 1896. Kehadiran surat kabar ini menandai dimulainya era pers modern di Bandung dan meningkatkan kebutuhan akan teknologi cetak yang lebih maju. (BandungBergerak.id)

Tidak lama kemudian, perusahaan percetakan lain mulai bermunculan. Salah satu pesaing awal adalah H.M. van Dorp & Co yang membuka cabang di Bandung pada tahun 1896. Sejak saat itu, industri percetakan Bandung mulai berkembang menjadi sektor usaha yang penting. (BandungBergerak.id)

Pertumbuhan pada Awal Abad ke-20

Memasuki awal 1900-an, jumlah percetakan di Bandung bertambah pesat. Selain percetakan milik orang Belanda, muncul pula percetakan milik pribumi dan masyarakat Tionghoa. Beberapa nama yang tercatat dalam arsip kolonial antara lain G. Kolff & Co, A.C. Nix, serta percetakan milik Haji Mohammad Afandi. (Ayo Bandung)

Pada periode 1910–1930, pengusaha Tionghoa memainkan peran penting dalam perkembangan percetakan dan penerbitan Bandung. Mereka tidak hanya mencetak buku, tetapi juga menerbitkan surat kabar, novel, cerita silat, dan bacaan populer berbahasa Melayu. Industri ini berkembang sangat pesat hingga menjadikan Bandung salah satu pusat penerbitan di Jawa Barat. (Ayo Bandung)

Percetakan dan Gerakan Kebangsaan

Pada tahun 1920-an hingga 1940-an, percetakan menjadi sarana penting bagi organisasi sosial, budaya, dan politik. Surat kabar berbahasa Sunda seperti Sipatahoenan menggunakan beberapa percetakan di Bandung, termasuk Drukkerij Tjahja Pasoendan dan kemudian percetakan milik organisasi Pasundan sendiri, Drukkerij Pengharepan. Melalui media cetak inilah gagasan pendidikan, kebudayaan Sunda, dan nasionalisme disebarkan kepada masyarakat. (BandungBergerak.id)

Bandung sebagai Kota Penerbitan

ImageSetelah kemerdekaan Indonesia, Bandung semakin dikenal sebagai kota pendidikan dan penerbitan. Banyak penerbit besar lahir dan berkembang di kota ini, termasuk Mizan Publishing dan Penerbit Angkasa. Kehadiran perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung juga mendorong tingginya kebutuhan buku dan jasa percetakan. (Cetak Bandung)

Era Modern

Saat ini Bandung menjadi salah satu pusat industri percetakan terbesar di Indonesia. Ribuan usaha percetakan, digital printing, percetakan kemasan, sablon, dan penerbitan tersebar di berbagai wilayah kota. Perkembangan teknologi digital membuat industri percetakan Bandung terus beradaptasi, mulai dari cetak offset hingga print-on-demand dan percetakan kemasan UMKM. (Cetak Bandung)

Fakta Menarik

Image

  • Tahun 1881: Percetakan modern pertama di Bandung dirintis oleh Jacob Roelof de Vries. (BandungBergerak)

  • Tahun 1896: Surat kabar pertama Bandung, De Preanger-Bode, mulai terbit. (BandungBergerak)

  • Tahun 1910–1930: Percetakan Tionghoa berkembang pesat dan menerbitkan banyak buku serta surat kabar. (Ayo Bandung)

  • Tahun 1920–1940: Percetakan menjadi alat penting penyebaran pendidikan dan gerakan kebangsaan Sunda. (BandungBergerak)

  • Hingga kini, Bandung tetap dikenal sebagai salah satu kota percetakan dan penerbitan terbesar di Indonesia. (Cetak Bandung)

  • Image


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.